18/04/12

Mengapa Kita Tidak Bisa Melihat Allah



 Sebagian orang bertanya-tanya, mengapa kita tidak bisa melihat Allah. Bagaimana menjawab mereka?      
   Melihat adalah kemampuan untuk mencakup. Misalnya ,terdapat banyak bakteri di tubuh manusia. Dalam sebuah gigi saja bisa jadi ditemukan jutaan bakteri. Bakteri –bakteri itu dengan kemampuan yang diberikan kepadanya dapat melubangi dan merusak gigi manusia. Namun, manusia tidak mampu mendengar suara atau kegaduhannya sebagaimana ia bahkan tidak merasakan keberadaannya. Demikian, jawaban pendahuluan atas pertanyaan, mengapa kita tidak bisa melihat Allah, yang dijelaskan oleh Muhammad Fethullah Gulen (MFG) dalam bukunya, Islam Rahmatan lil Alamin. Lebih lanjut beliau menguraikan: Di sisi lain ,bakteri itupun tidak bisa melihat dan mencakup manusia. Untuk bisa mencakup dan melihat manusia, ia harus berada di tempat yang bebas dan di luar tubuh manusia serta pada saat yang sama ia juga harus memiliki mata teleskopik. Dengan demikian ,ketidakmampuannya dalam mencakup manusia membuatnya tidak bisa melihat manusia. Ia tidak mampu selain melihat apa yang ada di depannya saja.
      Setelah contoh dari dunia yang kecil ini , mari kita beralih kepada dunia yang besar. Bayangkanlah ,kalau kita duduk di depan teleskop besar yang mampu menjangkau tempat sejauh empat miliyar tahun perjalanan cahaya. Meskipun demikian ,pengetahuan kita tentang alam dan tempat itu terbilang hanya setetes dari lautan. Kita tidak mampu secara sempurna mencakup alam ,baik esensinya dan luasnya maupun bentuk  dan kandungannya. Itu,karena sbagaimana kita tidak mampu mencakup dengan sempurna jagat kecil (mikrokosmos) ,kita juga tidak mampu mencakup dengan sempurna jagat besar (makrokosmos) .Dari sini jelaslah bahwa meskipun kita memiliki mikroskop dan sinar “x” ,kita tidak mampu mencakup secara menyeluruh mikrokosmos sekalipun. Demikian pula kita tidak mampu mencakup secara menyeluruh makrokosmos.
Sekarang marilah kita merenung tentang Allah Swt, Rasulullah bersabda:“Tujuh lapis langit berada di singgasana (kursi) Tuhan tak ubahnya seperti tujuh keping dirham yang dilemparkan di gurun. Abu Dzar ra mendengar Rasulullah bersabda ,’Singgasana (kursi) berada di Arasy tak ubahnya seperti sebuah cincin besi yang dilemparkan diantara dua penjuru sahara bumi’”.Bayangkanlah keagungan yang luar biasa itu,jika dibandingkan dengan alam ini. Ibarat benda-benda kecil yang hanya dilihat dengan mikroskop, bagaimana mungkin mengaku dapat menjangkau seluruh alam? Sedangkan seluruh tempat dan jagat raya ini ,jika dibandingkan dengan Arasy Allah ,pun laksana benda-benda kecil yang hanya terlihat dengan mikroskop, padahal Arasy barulah tempat penerapan kehendak dan perintah Illahi .Bukankah ini adalah kesibukan yang sia-sia ingin menjangkaunya? Jika demikian ,apatah lagi kalau ingin berusaha menjangkau Allah Swt . Karena itu Al Quran menyebutkan:
“Semua mata tidak dapat menjangkau-Nya ,sedangkan Dia menjangkau semua mata”.
QS Al An’am ayat 10
      Sekarang marilah kita meninjau masalah ini dari aspek fisika.Berapakah ukuran yang bisa dilihat oleh manusia dari alam yang terhampar di depan matanya ini? Ya,apakah kita dapat menyebutkan ukuran sesuatu yang bisa kita lihat? Katakanlah bahwa luas sesuatu yang terhampar di alam ini mencapai 1 milyar x 1 milyar agar kita bisa menyaksikan keagungan Sang Pencipta dan menatapnya dengan penuh kekaguman. Namun penglihatan kita hanya bisa melihat lima per sejuta saja darinya, sementara sisanya tidak kita lihat dan tidak kita ketahui.
      Benar, yang bisa kita lihat hanyalah gelombang cahaya dengan panjang dan frekuinsi tertentu. Dengan demikian renungkanlah betapa cacatnya pertanyaan sebagian orang,”Mengapa aku tidak bisa melihat Allah “.Mereka menanyakan hal ini,sementara mereka tidak mengetahui kalau dirinya sendiri hanya mampu melihat lima persejuta dari alam ini. Sesudah itu ,mereka ingin juga meletakan Allah dalam wilayah yang sama..Sungguh sebuah pemikiran yang kerdil. Namun, pada hari kiamat orang yang mencurahkan pikirannya di dunia di hadapan ayat-ayat semesta (kauniyah) bisa melihatnya. Karena itu ,nabi Musa dan penghulu para nabi,yaitu nabi Muhammad Saw ,ketika itu dapat melihatnya. Adapun orang-orang lain akan melihatnya sesuai dengan tingkatan masing-masing.Ini merupakan dorongan dan rangsangan yang kuat untuk merenung dan berfikir. Mereka yang ingin menggapai derajat tinggi di akherat harus memperbaharui hati dan pikiran mereka. Lebih tepatnya ,di dunia mereka harus memiliki perhatian yang tinggi serta jiwa dan pemikiran yang sesuai engan keinginannya untuk bisa melihat Allah pada hari kiamat.Dengan kata lain ,mereka tidak boleh meninggalkan dunia ini dengan bekal yang sedikit. Tentu saja ,semua sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Sang penyair sufi Ibrahim Haqqi ,mengungkapkan sebuah hadis daif lewat bait-bait syairnya:
Sang Maha Benar berfirman,”Aku adalah harta kekayaan yang tidak tertampung oleh bumi dan tidak pula oleh langit ,tetapi kalbu dapat menampungnya.”
Para pemikir berpendapat bahwa Allah ada, tetapi wujud-Nya tidak dapat dijangkau. Allah bukanlah sesuatu yang bisa dijangkau. Mata tidak bisa melihatnya dan telinga tidak bisa mendengarnya. Jika demikian ,yang harus kita lakukan hanyalah mengikuti ajaran para nabi mengenai hak-hak-Nya secara beriman kepada-Nya.Jadi, betapa agung karunia dan nikmat Zat Yang Maha Suci yang seluruh alam tidak sebanding satu butir atompun dihadapan keagungan-Nya. Betapa besar nikmat-Nya atas setiap mukmin ketika Dia tampak dalam kalbunya sebagai kekayaan sekaligus mengantarkannya kepada ketenangan dan ketentraman.
     Akhirnya, Allah a’lam bi al shawab (Allah-lah yang paling tahu tentang apa yang benar).[DP : 6]
      Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar