18/04/12
Setelah Ramadhan,Tetaplah Dalam Fitrah Illahi
Ramadhan telah berlalu, umat Islam pada umumnya merasa gembira. Ada yang bergembira karena merasa bebas, bisa makan dan minum disiang hari. Ada juga yang bersuka ria dengan baju baru, sepatu baru, celana baru, hadiah-hadiah dan THR beribu-ribu. Ada juga yang bersuka ria karena bisa pulang mudik bertemu sanak keluarga dan berbahagia karena dapat shalat Ied bersama-sama.
Orang-orang yang beiman merasa bangga, karena mereka telah mengisi bulan yang pnuh dengan rahmat itu dengan meningkatkan keimanan dan beramal saleh. Berbeda dengan para sahabat Rasulullah Saw, bila Ramadhan berakhir, mereka bersedih. Bukan bersedih karena tidak punya makanan atau tidak mampu membeli baju baru, tetapi bersedih disebabkan enggan berpisah dengan bulan Ramadhan. Mereka takut amal ibadahnya sia-sia tidak diterima Allah Ta’ala. Mereka khawatir tidak bertemu lagi dengan bulan yang penuh berkah itu. Mereka benar-benar ingin mmpunyai kesempatan lagi unuk meraih pahala. Bagaimana dengan kita?
Sebenarnya bulan Ramadhan itu seperti penataran atau latihan. Artinya pada bulan itu jasmani rohani dan jiwa raga benar-benar diuji dengan berbagai macam cobaan. Orang-orang yang melaksanakan shaum Ramadhan dibiasakan menahan lapar dan dahaga, hidup sederhana, bangun pada malam hari, makan teratur dan mmperhatikan kesehatan. Jiwanya dididik bersabar, disiplin, memperhatikan waktu,dan merasakan penderitaan orang lain. Pada waktu shaum kita berusaha menahan diri dari makanan dan minuman yang halal serta menggemarkan ibadah yang hukumnya wajib dan sunah. Dengan demikian diharapkan dapat menahan diri dari makanan yng makruh apalagi haram, seperti korupsi misalnya. Serta bersemangat dalam melaksanakan kewajiban sehingga kita benar-benar orang berjiwa taqwa, yaitu orang-orang yang mampu melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan yang di cegah Allah dan Rasulnya, sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 183.
“Hai orang-orang yang beriman, berpuasalah kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.
Dengan ibadah-ibadah yang dilakukan dalam bulan Ramadhan, dosa-dosa kita dihapus, sebagaimana sabda Rasulullah, “Siapa yang beribadah pada bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”(HR Bukhari).
Kegiatan-kegiatan yang berpahala pada bulan pengampunan itu diakhiri dengan zakat fitrah dan dilengkapi dengan Idul Fitri. Idul Fitri dapat diartikan kembali kepada fitrah ,dimaksudkan agar orang-orang yang melaksanakan shaum yang sebelumnya penuh dengan dosa dan kesalahan, pada hari itu kembali suci. Dosa-dosa kita dicuci dengan amal ibadah yang dilakukan di bulan suci Ramadhan. Fitrah bukan hanya mempunyai arti suci, tetapi mempunyai makna kecendrungan beriman kepada Allah dan dorongan untuk menjalankan agama Islam secara kaafah. Setelah kita memasuki bulan Syawal, kita bagaikan lahir kembali, siap memasuki lembaran hidup baru. Dengan semangat beribadah yang masih segar dan keimanan yang tinggi , akankah kita isi lembaran-lembaran hidup ini dengan dosa-dosa baru? Coba kita introspeksi atau muhasabah, sebelum terlambat. Setelah kita sukses berpuasa, masihkah kita mengunjungi majid untuk shalat berjamaah seperti pada bulan Ramadhan? Masihkah kita bangun pada waktu sahur untuk tahajud, membaca Al Qur’an setiap hari, mempelajari Islam dan mengeluarkan shadaqah? Masih ada semangatkah beribadah pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya? Kita wajib mempertahankn ketaqwaan dan fitrah berkesinambungan sekurang-kurangnya sampai datang Ramadhan tahun depan.
“Maka hadapkanlah jiwa ragamu dengan lurus kepada agama Allah. Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanykan manusia tidak mengetahuinya”
QS Ar-Rum ayat 30
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, training puasa adalah suatu metode pelatihan untuk pengendalian diri yang bertujuan , untuk meraih pembebasan dari belengu napsu yang tidak terkendali, dan bertujuan memelihara aset kita yang paling berharga yaitu fitrah diri,yang akan melahirkan sifat-sifat rahman, sifat rahim, sabar, adil, memberi, konsisten, sungguh-sungguh, dan sifat mulia lainnya...sehingga munculah pribadi yang luhur berhati emas, bermental baja, berfisk besi , yang diakhiri dengan Idul Fitri, meskipun training puasa telah berlalu. Dan berjuanglah terus untuk meraih kemenangan yang diperoleh ketika puasa ,yaitu Minal aidzin wal faidzin, tetaplah dalam fitrah Illahi.
Sebagai penutup, cobalah simak puisi Hassan Al Basri pada zaman Rasulullah masih hidup:
“Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang lain,Karenanya hatiku tenang. Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain,maka aku sibukan diriku bekerja dan beramal. Aku tahu, Allah selalu melihatku, karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat .Aku tahu, kematian menantiku maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku”.
Wallahu a’lam.[DP : 14 & 2]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar