18/04/12

Ridha Dan Qana’ah



      Orang yang beriman, dan yang memiliki ilmu dan amal yang baik, diakui oleh Allah Swt sebagai makhluk yang terbaik. Untuk mereka disediakan balasan dan ganjaran yang seimbang dengan iman dan amal saleh mereka.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, merekalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka disisi Tuhan adalah surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal selama-lamanya di dalamnya, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepaa Allah, yang demikian itu adalah untuk orang yang takut kepada Tuhan-Nya”.
                                QS Ai-Bayyinah ayat 7-8
      Di atas segala macam nikmat, mereka mendapat keridhaan Allah Swt, dan merekapun ridha kepada Allah. Kalau kita ingat kepada Allah, maka Allah pun akan ingat kepada kita. Sebaliknya jika kita lupa kepada Allah, maka Allah pun lupa kepada kita. Benar kata group band Bimbo dalam suatu nyanyinya,
“Aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat, Engkau dekat. Hati adalah cerminan tempat pahala dan dosa berpadu. Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa, tempatku memuja dengan segala doa”.
      Jika kita dekat kepada Allah dengan bertaqwa, maka Allah akan lebih mendekat kepada kita, dan akan menyertai segala aktivitas kita dalam bentuk hidayah, taufik, ma’unah dan inayah-Nya. Sehingga segala yang kita rencanakan untuk tujuan yang baik akan berjalan dengan mulus dan berhasil mencapai tujuannya. Itu semua akan diberikan oleh Allah Swt untuk orang-orang yang selalu bertaqwa kepada Allah, yaitu orang-orang yang mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Apabila Allah Swt menyuruh manusia berbuat sesuatu, itu tandanya berguna dan berpaedah untuk dikerjakan, dan sebaliknya, manakala Allah Swt telah melarang sesuatu, itu tandanya berbahaya dan akan mendatangkan malapetaka bila dilanggar.Salah satu dari tanda cinta kepada Allah, ialah ridha menerima ketentuan-ketentuan yang ditimpakan oleh Allah Swt atas diri manusia yang benar-benar bertaqwa.Ia tidak berputus asa manakala terjadi musibah atas dirinya. Ia tidak selamanya berduka berlebih-lebihan. Karena ia tahu, sebagai orang yang bertauhid kepada Allah Swt, ia yakin seyakin-yakinnya, bahwa segala sesuatu yang terjadi di permukaan bumi ini, demikian pula yang langsung menimpa dirinya, baik yang mengembirakan ataupun yang menyedihkan, semuanya itu tidak akan terjadi, jika tidak dengan izin Allah Swt.
“Tidaklah menimpa sesuatu musibah melainkan dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan menuntun hatinya, dan Allah itu Maha Mengetahui atas segala sesuatu”.
                            QS At Taghaabun ayat 11
Orang yang benar-benar beriman dan cinta kepada Allah, pasti akan menerima semua ketentuan Allah dengan ridha dan tawakal.
      Di dalam sebuah hadist diriwayatkan, Bahwa Nabi Muhammad Saw menanyakan segolongan sahabatnya,” Apa (siapakah) kamu?”. Para sahabat menjawab,” Kami orang-orang yang beriman”. Nabi bertanya lagi, “Apakah tanda keimanan kamu?”. Para sahabat menjawab,”Kami bersabar menghadapi bala(cobaan) dan kami bersyukur ketika dalam kelapangan, dan kami ridha ketika ditimpa qadha (ketentuan Tuhan). Nabi lalu menegaskan,”Kamu beriman, demi Tuhan Ka’bah”.(HR Thabarani).
Jadi, tanda orang beriman ialah sabar menerima bala (cobaan), syukur menerima nikmat (kelapangan), dan ridha dalam menerima segala ketentuan Allah Swt.
      Sedangkan qana’ah adalah orang yang dapat menerima kenyataan dengan rezki yang terbatas, tetapi ia ridha menerimanya. Karena ia yakin bahwa rezeki yang diterimanya adalah kehendak dan ketentuan Allah, setelah ia berusaha dengan segala daya dan upaya. Ia tidak melihat kepada banyaknya pemberian, tetapi selalu memperhatikan siapakah yang memberi, yaitu Allah Swt. Ia merasa cukup dengan rezeki yang diterimanya itu. Sifat yang demikian itu dalam ilmu Akhlak dinamakan sifat qana’ah. Ia menerima dengan ikhlas walaupun pada kenyataannya kurang dari kebutuhannya, namun diterimanya dengan rasa syukur dan ridha dengan sifat qana’ah itu.
“Berbahagialah orang yang mendapat petunjuk ke dalam Islam, dan rezekinya terbatas dan ia ridha dengan rezeki yang terbatas itu”.
                                Al Hadist, HR Turmudzi
Lawan dari sifat qana’ah ialah loba dan thama’, yaitu sifat yang menyebabkan orang tidak pernah merasa cukup, walaupun rezeki yang diperolehnya telah melebihi kebutuhan-kebutuhannya. Orang yang memiliki sifat thama’ ini, tidak pernah merasa bahagia dalam hidupnya, walaupun ia telah bergelimang harta dan kekayaan  berlimpah. Batinnya tetap merasa miskin, jiwanya gersang dan kerdil .Itulah sebabnya, maka Rasulullah mengingatkan kita bahwa kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.
“Bukanlah kekayaan itu karena kebanyakan harta, tetapi kekayaan (yang sebenarnya) ialah kekayaan jiwa”.
                                (Muttafaq Allaihi)
Wallahu a’lam.[DP : 3]

Setelah Ramadhan,Tetaplah Dalam Fitrah Illahi



      Ramadhan telah berlalu, umat Islam pada umumnya merasa gembira. Ada yang bergembira karena merasa bebas, bisa makan dan minum disiang hari. Ada juga yang bersuka ria dengan baju baru, sepatu baru, celana baru, hadiah-hadiah dan THR beribu-ribu. Ada juga yang bersuka ria karena bisa pulang mudik bertemu sanak keluarga dan berbahagia karena dapat shalat Ied bersama-sama.
      Orang-orang yang beiman merasa bangga, karena mereka telah mengisi bulan yang pnuh dengan rahmat itu dengan meningkatkan keimanan dan beramal saleh. Berbeda dengan para sahabat Rasulullah Saw, bila Ramadhan berakhir, mereka bersedih. Bukan bersedih karena tidak punya makanan atau tidak mampu membeli baju baru, tetapi bersedih disebabkan enggan berpisah dengan bulan Ramadhan. Mereka takut amal ibadahnya sia-sia tidak diterima Allah Ta’ala. Mereka khawatir tidak bertemu lagi dengan bulan yang penuh berkah itu. Mereka benar-benar ingin mmpunyai kesempatan lagi unuk meraih pahala. Bagaimana dengan kita?
      Sebenarnya bulan Ramadhan itu seperti penataran atau latihan. Artinya pada bulan itu jasmani rohani dan jiwa raga benar-benar diuji dengan berbagai macam cobaan. Orang-orang yang melaksanakan shaum Ramadhan dibiasakan menahan lapar dan dahaga, hidup sederhana, bangun pada malam hari, makan teratur dan mmperhatikan kesehatan. Jiwanya dididik bersabar, disiplin, memperhatikan waktu,dan merasakan penderitaan orang lain. Pada waktu shaum kita berusaha menahan diri dari makanan dan minuman yang halal serta menggemarkan ibadah yang hukumnya wajib dan sunah. Dengan demikian diharapkan dapat menahan diri dari makanan yng makruh apalagi haram, seperti korupsi misalnya. Serta bersemangat dalam melaksanakan kewajiban sehingga kita benar-benar orang berjiwa taqwa, yaitu orang-orang yang mampu melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan yang di cegah Allah dan Rasulnya, sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 183.
“Hai orang-orang yang beriman, berpuasalah kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.
Dengan ibadah-ibadah yang dilakukan dalam bulan Ramadhan, dosa-dosa kita dihapus, sebagaimana sabda Rasulullah, “Siapa yang beribadah pada bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”(HR Bukhari).
      Kegiatan-kegiatan yang berpahala pada bulan pengampunan itu diakhiri dengan zakat fitrah dan dilengkapi dengan Idul Fitri. Idul Fitri dapat diartikan kembali kepada fitrah ,dimaksudkan agar orang-orang yang melaksanakan shaum yang sebelumnya penuh dengan dosa dan kesalahan, pada hari itu kembali suci. Dosa-dosa kita dicuci dengan amal ibadah yang dilakukan di bulan suci Ramadhan. Fitrah bukan hanya mempunyai arti suci, tetapi mempunyai makna kecendrungan beriman kepada Allah dan dorongan untuk menjalankan agama Islam secara kaafah. Setelah kita memasuki bulan Syawal, kita bagaikan lahir kembali, siap memasuki lembaran hidup baru. Dengan semangat beribadah yang masih segar dan keimanan yang tinggi , akankah kita isi lembaran-lembaran hidup ini dengan dosa-dosa baru? Coba kita introspeksi atau muhasabah, sebelum terlambat. Setelah kita sukses berpuasa, masihkah kita mengunjungi majid untuk shalat berjamaah seperti pada bulan Ramadhan? Masihkah kita bangun pada waktu sahur untuk tahajud, membaca Al Qur’an setiap hari, mempelajari Islam dan mengeluarkan shadaqah? Masih ada semangatkah beribadah pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya? Kita wajib mempertahankn ketaqwaan dan fitrah berkesinambungan sekurang-kurangnya sampai datang Ramadhan tahun depan.
“Maka hadapkanlah jiwa ragamu dengan lurus kepada agama Allah. Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanykan manusia tidak mengetahuinya”
                                QS Ar-Rum ayat 30
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, training puasa adalah suatu metode pelatihan untuk pengendalian diri yang bertujuan , untuk meraih pembebasan dari belengu napsu yang tidak terkendali, dan bertujuan memelihara aset kita yang paling berharga yaitu fitrah diri,yang akan melahirkan sifat-sifat rahman, sifat rahim, sabar, adil, memberi, konsisten, sungguh-sungguh, dan sifat mulia lainnya...sehingga munculah pribadi yang luhur berhati emas, bermental baja, berfisk besi , yang diakhiri dengan Idul Fitri, meskipun training puasa telah berlalu. Dan berjuanglah terus untuk meraih kemenangan yang diperoleh ketika puasa ,yaitu Minal aidzin wal faidzin, tetaplah dalam fitrah Illahi.
      Sebagai penutup, cobalah simak puisi Hassan Al Basri pada zaman Rasulullah masih hidup:
“Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang lain,Karenanya hatiku tenang. Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain,maka aku sibukan diriku bekerja dan beramal. Aku tahu, Allah selalu melihatku, karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat .Aku tahu, kematian menantiku maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku”.
    Wallahu a’lam.[DP : 14 & 2]
   

Bacalah Demi Waktu (Wal ‘asr)



      Wal ‘asr,lompatan waktu (stage era) atau orang sering mengatakan “human being stage era” ditahapkan menjadi, era masa lampau (past era) , era masa kini (now era), dan era masa yang akan datang (future era). Masa lampau adalah masa ang sudah lewat, yaitu masa yang tidak bisa lagi kembali. Sedangkan masa kini adalah “kenyataan”. Kenyataan baik atau buruk,kenyataan manis atau pahit yang kita alami sekarang adalah hasil masa lampau. Kalau masa kini dirasakan lebih baik dari masa lampau tentunya harus kita syukuri dan nikmati. Sebaliknya, kalau masa kini dirasakan lebih buruk dari masa lampau , jangan disesali, hadapi dengan ikhlas dan introspeksi. Baik atau buruk adalah rule Allah (ketetapan Allah), tetapi setelah melalui proses usaha. Dengan kata lain, setelah berusaha dengan sungguh-sungguh dan panjang, hasilnya adalah “baik” atau “buruk”, itulah takdir. Pada setiap proses yang akan kita hadapi dan telah kita lalui, terdapat takdir atau ketetapan Allah.
      Masa yang akan datang adalah masa yang penuh mesteri. Kita tidak tahu apa yang terjadi atau hasil apa yang akan kita peroleh besok.
“Tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.
                            QS Lukman ayat 34
Tetapi Allah Swt telah mengingatkan kita dalam Surat Al-Asr, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengerjakn amal saleh.....”. Kecuali yang beramal saleh” maksudnya, yaitu orang-orang yang mau bekerja, berusaha,dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Usaha dalam arti luas, yaitu bekerja, berfikir dengan membaca keadaan dengan fasilitas yang telah disediakan oleh Allah Swt berupa langit dan bumi (mafissamawati wal ardhi). Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, kecuali kalau orang itu mau merubahnya sendiri, yaitu dengan beramal, bekerja dan membaca keadaan yang ada disekelilingnya. Membaca adalah mencari, menemukan, menelaah dan menyempurnakannya terus menerus ketetapan Allah atau hukum-hukum Allah. Ketetapan Allah adalah Al-Alim yang Maha Ilmu, jadi ketetapan Allah itu sudah ada , tetapi umat manusia disuruh menggali dan mencari dengan membaca.
      Ketika perintah membaca diturunkan melalui wahyu pertama oleh jibril, berkata, “Iqra’..... Bacalah....,nabi Muhammad Saw bertanya, “Ma iqra’,apa yang harus saya baca? Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar nabi dan umatnya membaca apa saja yang bermanfaat bagi manusia (bismi rabbika).
      Seorang raja Sisilia memiliki sebuah mahkota yang terbuat dari emas murni. Dia bingung karena tidak mengetahui berapa volume dari mahkota miliknya itu. Bentuk mahkota itu sangat unik, penuh dengan ukir-ukiran,sehingga sangat sulit untuk mnentukan volumenya. Kemudian para ilmuwan pada jamannya dipanggil untuk berusaha untuk mengetahui volume mahkotanya .Syahibul hikayat tersebut kisah, ada seorang ilmuwan ketika mandi,air keluar dari bath tubnya, lalu ia membaca, kenapa air keluar atau tumpah. Dia memperhatikan hal itu, air yang tumpah itu. Kemudian ia keluar dari dalam bath tub tersebut, dan diisinya kembali dengan air sampai penuh, lalu ia mencelupkan kakinya, kembali airnya tumpah.Diperhatikannya kenapa air tumpah, ketika ia memasukan anggota badannya. Aha, dia menemukan jawabannya. Tiba-tiba saja sang ilmuwan itu berteriak, “Eureka (saya dapat”), Eurka ,Eureka. Setelah berpakaian rapi ,ia bergegas menemui raja, dengan berbinar-binar ia mengatakan bisa menemukan jawabannya. Dihadapan sang raja, dia memasukan mahkota itu ke dalam suatu tempat (bejana) yang terisi penuh air. Lalu air yang tertumpah dimasukan ke dalam gelas pengukur, maka terjawablah volume mahkota emas yang penuh ukiran itu. Sang ilmuan itu bernama Archimedes, yang kemudian namanya diabadikan untuk mngingat hukum bahwa,berat/masa jenis benda adalah beratnya dibagi volume.
      Archimedes telah membaca air yang  tumpah, ketika dirinya masuk ke dalam bath tubnya. Kemudian ia meneliti, menelaah, dan mempelajari hal itu secara sungguh-sungguh. Akhirnya ia berhasil melihat salah satu ketentuan Tuhan, yaitu hukum Archimedes. Yaitu suatu ketetapan milik Tuhan yang dilihat dan dibaca oleh Archimedes. Archimedes telah memanfaatkan waktu, masa lalu, masa kini,dan masa yang akan datang. Demi masa (Wal asr) dan ayat pertama, Bacalah (Iqra’).
“Allah meninggikan derajat bagi kaum yang senantiasa berfikir (Al –Hadist)”. “Katakanlah, samakah orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu” (QS Azumar ayat 9)
Pertanyaannya, kenapa Tuhan memberikan ilmu melalui Archimedes? Karena Tuhan tidak pilih kasih, Tuhan memberikan ilmunya kepada siapa yang mau membaca. Tuhan Maha Rahman, Maha Rahim, karena setiap manusia diciptakan Allah Swt mempunyai suara hati (kalbu) berupa Al Alim yang bersemayam di setiap jiwa manusia, sebuah dorongan untuk “belajar”. Dorongan itu ada pada Aechimedes yang telah memanfaatkan waktu dan membaca, ada pada Albert Einstin yang menemukan hukum kekekalan energi, kedahsyatan energi atom dengan rumus : E=Mc^2 . Ada pada Thomas Alfa Edison yang mnemukan lampu pijarnya. Ada pada Prof. Howard Aiken yang menemukan komputer pada tahun 1937, dan masih banyak lagi ilmuwan yang berfrestasi untuk kesejahteraan manusia. Mereka-mereka itu telah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan membaca keadaan alam ciptaan Allah Swt.
      Teori-teori mereka itu, dipelajari terus menerus oleh orang lain dengan menyempurnakannya. Sebetulnya, dorongan untuk belajar ada juga pada kita, hanya kita tidak mau membaca, belajar sungguh-sungguh dengan memanfaatkan waktu. Waktu banyak kita lewatkan begitu saja. Bukan kita saja, tetapi mungkin juga bangsa kita, bangsa Indonesia, yang tertinggal terus dibanding negara-negara lain, padahal sumber kekayaan alam Indonesia berimpah.Menurut data dari World in Figure (Harian Pikiran Rakyat Juli 2006) mencatat bahwa, lada putih, pala, LNG dan kayu lapis Indonesia penghasil nomor 1(satu) di dunia. Karet dan timah nomor 2(dua) , tembaga, batu bara,minyak dan ikan termasuk 10 (sepuluh) besar dunia. Indonesia memiliki 325 jenis flora dan fauna. Padahal Tuhan telah menyuruh kita dalam ayat-ayat-Nya dalam Surat Al-alaq dan Al ‘Asr.
“Bacalah, Tuhan-Mulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar dengan kalam, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Lihat saja negara Jepang,ekonominya maju pesat melampaui negara-negara lainnya. Hasilnya menakjubkan, karena mereka telah membaca, belajar, meyempurnakan terus menerus  dengan memanfaatkan waktu. Kaum mudanya dikirim oleh pemerintahnya ke berbagai negara di kawasan Eropa dan Amerika secara besar-besaran , dengan tujuan membaca atau belajar. Semua buku-buku barat diterjemahkan kedalam bahasa Jepang sehingga memudahkan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dunia barat. Buku-buku itu dijual dengan harga yang murah, untuk mendorong agar bangsa Jepang gemar membaca. Hal ini dapat dilihat dimana-mana di Jepang, baik di kereta, di bus,atau dimana saja, hampir semua membaca. Setelah semua ilmu pengetahuan telah mereka serap dan mereka kuasai, maka mereka menyempurnakannya lagi. Contoh, produksi mobil di Amerika Serikat seperti Chrysler, Ford, atau Chevrolet umumnya berbentuk besar, berat, dan boros bahan bakar. Oleh bangsa Jepang hal itu bibaca, dicermati, dievaluasi, dan pada akhirnya disempurnakan. Kemudian lahirlah industri mobil Jepang yang memproduksi mobil yang ringan, murah, dan hemat bahan bakar.Seperti kita ketahui saat ini industri mobil Jepang bisa dikatakan telah menguasai sebagian besar pangsa pasar jenis mobil sedan, seperi merk Honda, Toyota, atau Suzuki. Ini contoh nyata dari suatu kebiasaan membaca, kebiasaan berfikir, dan kebiasaan mengevaluasi dan menyempurnakan.
      Itulah contoh nyata dari hasil Iqra’ dan Al-Asr yang telah difirmankan Allah Swt 1400 tahun yang lalu.[DP : 2]
Wallahu a’lam.                                                                      
                           

Sukses Tapi Tidak Bahagia,Mengapa?


    

 Banyak sekali orang yang merasa sudah mencapai cita-cita atau mencapai puncak kesuksesan baik karier ataupun materi, tetapi merasakan sesuatu yang “hampa dan kosong”. Umumnya, mereka baru menyadari bahwa mereka telah menaiki tangga yang salah, justru setelah mencapai puncak tertinggi anak tangga kariernya. Ternyata pada akhirnya, uang harta, kehormatan, dan kedudukan bukanlah sesuatu yang mereka cari selama ini.
“Dan mereka berkata, kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tak ada yang membinasakn kita selain masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
                                                                                                  QS Jaatsiyah ayat 23
Orang-orang sukses tersebut, jelas orang yang sangat bermanfaat secara sosial da ekonomi bagi suatu perusahaan, tapi kehilangan makna spiritual dalam dirinya sendiri. Penyakit seperti ini banyak diderita oleh orang-orang modern yang sering dinamakan spiritual patology atau spiritual illness (sakit jiwa). Lihatlah beberapa contoh pristiwa yang belum lama ini terjadi, seperti presiden direktur Hyundai yang meninggal secara mengenaskan, ia mati bunuh diri dengan meloncat dari gedung pencakar langit yang tinggi. Juga seorang top eksekutif Indonesia yang mati bunuh diri dengan terjun bebas dari sebuah apartemen di Jakarta berlantai 56.
“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya  kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
                                                                                         QS Thaahaa ayat 124
Apabila diibaratkan dengan tatanan galaksi, maka manusia seperti ini dapat diibaratkan sebagai salah satu benda langit (bisa planet, astroid atau benda angkasa lainnya) yang telah memiliki garis edar, namun ia tidak mengetahui pusat orbit yang dikitarinya. Mereka telah bergerak pada garis edar dengan baik dan benar (in line), tetapi ia tidak tahu benda apakah gerangan yang acapkali dikelilinginya. Mereka frustasi tak tahu apa yang sebenarnya mereka cari.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat sesuai dengan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya ,dan meletakan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
                                                                                      QS Ajaatsiyah ayat 23
Penjelasan ini bukan berarti bahwa yang benar itu adalah menjadi seseorang “pertapa spiritual” yang hanya duduk diam merenung serta menikmati indahnya spiritualitas. Manusia seperti ini kurang cocok apabila hidup di dunia modern yang penuh tantangan, karena sering kali type manusia seperti ini lari dari tanggung jawab. Sebaliknya, jenis manusia seperti ini dapat dikatagorikan sebagai “bermakna tetapi tidak atau kurang bermanfaat”,Ia Sudah mengetahui pusat orbitnya tetapi tidak mengetahui garis edarnya, artinya sudah memiliki spiritualitas tinggi tapi tidak memiliki kinerja yang baik.
      Yang diharapkan sebenarnya, adalah seorang yang memiliki pusat orbit dan mengerti secara jelas mengapa ia mengorbit dan bergerak pada garis edar. Artinya, ia memiliki pusat orbit yang benar yaitu nilai-nilai spiritual, memahami secara jelas siapa sang pemilik nilai-nilai spiritual tadi, pun aktif bergerak dan berkarya dengan kinerja yang optimal, namun tetap memegang teguh inner values atau nilai-nilai mulia yang dikitarinya. Dia-lah insan Kamil ,yang mendorong atau mengarah ke dalam batin, menempatkan hati sebagai pusat orbit dan amal saleh sebagai garis edar.
       Pusat orbit yang berada ditengah adalah sebuah nilai spiritual dan sumber energi, apabila dikiaskan, ia menjadi energi penggerak bagi seluruh planet-planet yang beredar mengelilinginya. Namun banyak diantara planet dan benda-benda angkasa tersebut tidak mengetahui mengapa ia terus menerus berputar mengelilinginya. Ia hanya berputar sepanjang waktu tanpa mengenal apakah sebenarnya pusat orbitnya itu dan mengapa ia harus melakukan aktivitas tersebut. Ia hanya memiliki keyakinan untuk berkeliling, namun tidak mengetahui apa makna aktivtas yang dilakukannya.
      Kiasan tersebut menggambarkan seorang manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya secara jelas, mengapa ia harus terus bekerja sepanjang tahun secara terus menerus. Ia pun tidak mengetahui apa pusat orbit yang dikelilinginya sepanjang hidupnya. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup? Bahkan ia tidaktahu kemana ia akan pergi nantinya.
“Katakanlah ,sesungguhnya aku diperintahkan Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”.
                                QS Az-Zumar ayat 11
      Ayat di atas menekankan, bahwa agamalah yang bisa memberikan solusi agar manusia menjadi sadar untuk apa ia bekerja dan apa tujuan hidupnya, sehingga membuat ia menjadi bahagia dalam hidupnya. Karena, menurut T.A Latief Rusdiy, bahwa agama adalah kepercayaan adanya sesuatu kekuatan yang melebihi segala yang ada, dan kekuatan itu adalah asal dan tempat bergantung dari segala yang ada, yaitu Tuhan YME, Yang Maha Suci dan Maha Berkuasa. Tanpa agama, manusia akan kehilangan arah dan terombang-ambing dalam hidupnya. Tanpa agama manusia akan menomor satukan benda dalam segala hal, yang akhirnya menjadi manusia gila harta (materialistis). Ia merasa tanpa harta hidupnya gagal. Harta itu pula yang menyebabkan ia frustrasi dan lalu ia bunuh diri.
      Pilihan yang terbaik, tentu saja jalankanlah agama yang haqq, yaitu agama Islam yang telah diridhai Allah Swt sesuai dngan firman-Nya dalam QS Al-Maidah ayat 3 :
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah aku cukupkan rahmat-Ku atasmu, dan Aku telah ridha Islam jadi agamamu”
Wallahu a’lam.[DP : 5]     

Jika, Khusuk, Ikhlas Dan Pasrah Jiwa Kita Menjadi Tenang



      Ada tiga hal yang harus kita perhatikan supaya jiwa dan fisik kita menjadi tenang dan sehat. Ketiga hal itu adalah khusuk, ikhlas,dan pasrah.Khusuk, adalah pemusatan pikiran pada Sang Maha Kuasa ketika berdoa dengan penuh konsentrasi dan dengan kerendahan hati. Sebab, salah satu penyebab tidak terkabulnya doa adalah karena kita tidak khusuk, hati dan pikiran kita  mengerawang, tidak ikut hadir pada saat berdoa, alias berdoa hanya di mulut saja, tidak sepenuh hati. Jadi mestinya,hilangkan pikiran lain, konsentrasi pada kata-kata yang kita ucapkan ketika berdoa.
      Ikhlas, artinya ridha menerima segala sesuatu yang tidak mengenakan pada diri kita dan harus diterima dengan ikhlas, tidak mengeluh, tidak komplain atas sesuatu kejadian atau musibah yang sering kita alami atau terima.
      Yang membuat kita makin sakit adalah karena kita tidak mau menerima dengan ikhlas rasa sakit atau masalah yang sedang kita hadapi itu. Kalau kita ikhlas, apapun yang kita alami menjadi sarana mensucikan diri dari dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan. “Wong sakit kok disuruh ikhlas, saya ini pingin sembuh”,begitu respon kebanyakan orang yang sedang sakit. Orang semacam itu biasanya sulit sekali sembuh, ia gelisah karena tidak ikhlas. Itulah paradox penyakit, semakin kita berontak, semakin sering ia menghinggapi kita.Semakin ikhlas kita menerimanya, semakin cepat ia pergi. Jadi ikhlaskan hati anda, maka rasa sakit anda akan pergi, kalaupun ia tak kunjung pergi juga, at least sakit itu dapat menjadi berkah penebus dosa, penambah pahala.
      Pasrah, berbeda dengan ikhlas. Kalau ikhlas menerima dengan legowo apapun yang kita alami saat ini, sedangkan pasrah adalah menyerahkn kepada Allah apapun yang terjadi nanti. Kita pasrahkan kepada-Nya apapun yang terjadi. Apakah nanti rasa sakit yang kita alami semakin parah, semakin membaik, atu sembuh total kita pasrahkan kepada Allah Swt. Pasrah atau disebut juga “tawakal” ialah kita hanya percaya kepada Allah, kita sadar bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali atas kehendak Allah, semuanya atas kehendak Allah, semuanya karena kebijakan Allah. Kita pasrah ketika menerima kehendak Allah tanpa merasa bertanya-tanya atas kehendak-Nya, karena kita telah beriman dan yakin seyakin-yakinnya dengn segala keputusan yang diberikan Allah kepada kita. Namun, pasrah bukan berarti “fatalisme”, pasrah sejati disertai usaha optimal untuk mencari solusi. Jadi, pasrah adalah sebuah kondisi jiwa bukan kita menyerahkan diri kita kepada Allah tanpa usaha, tentu saja harus dibarengi dengan semangat juang dan usaha yang pantang menyerah, sehingga akan memberikan ketenangn jiwa dan kedamaian pikiran, karena yakin bahwa segala permasalahan kita adalah dalam genggaman-Nya. Dan bagi orang yang pasrah, Allah akan mengambil masalahnya. Allah sendiri yang akan turun tangan untuk menyelesaikan permasalahannya.
      Seperti Nabi Ibrahim berdoa mempasrahkan dirinya kepada Allah ketika Ia akan dibakar, dalam QS Ambiya ayat 69 ,”Cukuplah Allah sebagai penolongku”maka jadi dinginlah api yang hendak membakarnya. Atau Nabi Musa yang berdoa ketika berhadapan dengan Fir’aun, “Aku serahkan masalahku kepada Allah ,sesungguhnya Dia Maha Melihat segala urusan hambanya” (QS Taaha ayat 25”). Allah pun berpesan ,”Dan jika telah kau bulatkan tekadmu, maka slanjutnya, pasrahkanlah kepada Allah  Swt, sesungguhnya Ia mencintai orang-orang yang berpasrah diri dan katakan dengan rahmat dan karunia Allah hendaklah kamu berbahagia, karena rahmat dan karunia-Nya lebih baik dari  yang kamu usahakan”.
      Sebagai ilustrasi, pada tahun 1952 ,tuan Laster Levenson  adalah seorang wira usahaan sukses dan pakar Fisika, diusianya yang ke 42 menderita berbagai macam penyakit fisik dan psikologis. Kesuksesan karir dan finansil tidak membuatnya bahagia. Ia menderita depresi berat, sakit ginjal, lever membengkak, dan beberapa komplikasi parah lainnya. Suatu hari, dokter yang menanganinya menyerah dan mmpersilakan dia pulang untuk menjemput kematian dengan damai di apartmennya di Central South Park, New York USA. Laster Levenson adalah pria yang suka tantangan, alih-alih menyerah, dia malah memutuskan untuk kembali ke laboratorium dan mencari jalan keluar atas masalah dirinya. Dia melakukan refleksi, dan akhirnya menemukan cara pasrah untuk melewati segala keterbatasan dirinya,”to letting go of all any inner limitation” begitu ia menyebutnya. Selama 3 bulan ia mempraktikan metode pasrah ini. Dan secara ajaib semua penyakitnya sembuh, bahkan memasuki kondisi kedamaian dan kebahagiaan yang terus ia rasakan hingga hari kematiannya, 18 Januari 1994, yaitu 40 tahun setelah vonis dokter, luar biasa. Metode pasrah ala Laster Levenson dikembangkan di Amerika Serikat, oleh muridnya yang setia bernama Hole Dwoskin, sampai sekarang ratusan ribu orang telah memetik manfaatnya dan ternyata efektivitasnya telah diakui para ahli dan dibuktikan oleh beberapa penelitian, salah satunya dilakukan oleh lembaga penelitian terkemuka, Harvard Medical School.
“Yaitu, orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali”.
                                                                                   QS Al-Baqarah ayat 156
Kata kunci dari ketiga pokok yang diuraikan di atas, bahwa “ikhlas”kita sikapi atas sesuatu yang telah terjadi. Sedangkan “khusuk dan pasrah” kita sikapi atas sesuatu yang belum terjadi. Nah, apabila kata kunci itu kita fungsikan dengan sebenarnya, Insya Allah jiwa dan fisik kita menjadi tenang dan sehat.[DP : 16]
Wallahu a’lam.

Tiga Missi Hidup Manusia



      Sepantasnya kita kagum kepada 3(tiga) macam orang, yaitu : Pertama ,adalah orang-orang suci ,yang ditengah-tengah kondisi sekitarnya penuh godaan, ia dapat tetap menjaga kesucian hatinya, yaitu mempertahankan bahkan meningkatkan cintanya pada Allah.Ini sungguh tidak mudah, dunia penuh dengan distraktor, pengganggu konsentrasi. Sungguh sulit untuk tetap bisa mempertahankan kesetiaan pada Allah. Karena itu pada tingkat tertinggi sudah seharusnya mengagumi para nabi, atau orang-orang sederhana di sekitar rumah kita ,yang setiap adzan dikumandangkan dengan setia pergi ke masjid, tidak peduli apapun kondisinya, hujankah, panaskah, sedang ada acara TV yang menarikkah, atau sedang pestakah, mereka tetap saja dengan setia memenuhi panggilan Allah. Apakah kita bisa seperti itu? Terkadang kita tergoda oleh kantuk, oleh kesibukan atau perasaan malas.
      Yang Kedua,orang yang pantas kita kagumi adalah orang-orang besar yang dengan caranya masing-masing telah memberikan kontribusi besar kepada orang lain. Mereka telah merubah wajah dunia, seperti Mahatma Gandhi, Thomas Alfa Edison ,Albert Einstein dan banyak lagi.
      Hidup ini hanya sekali dan sebentar, sudah selayaknya kita berusaha untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk hidup orang lain, untuk generasi berikutnya. Tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar yang mengubah dunia. Bahkan sesuatu yang kecilpun, misalnya anda dapat menyumbangkan pikiran lewat “buletin kecil kecilan ”pun pantas juga kita kagumi. Orang yang telah memberikan kontribusi besar, termasuk ibu kita, melahirkan kita dengan penuh pengorbanan dan dedikasi demi kebaikan dan kesuksesan anaknya, patut pula kita kagumi. Seharusnya kitapun berfikir merenungkan apa yang telah pernah kita perbuat dan kontribusikan untuk kehidupan orang lain, saudara-saudara kita umat manusia? Mestinya sedih, jika jawabannya adalah “belum apa-apa”.
      Yang Ketiga, orang yang pantas kita kagumi adalah jenis orang yang sanggup menempa dirinya, mengolah potensi dan bakatnya dengan kerja keras sehingga mampu mencapai titik optimal. Hallen Keller, wanita pertama buta tuli yang dapat meraih gelar sarjana, karena ia berusaha dengan kerja keras dan ia dapat mengolah potensi dan bakatnya secara optimal. Para atlit kelas dunia, seniman dengan karya-karya agungnya, sungguh membuat kita terkagum-kagum ,karena untuk mengoptimalkan potensi hingga titik maksimal itu sungguh butuh perjuangan, kegigihan, konsentrasi yang tinggi.Sukses adalah satu persen dari bakat, sembilan puluh sembilan persen adalah kerja keras, begitu kata Thomas Alfa Edison, maka salah besar jika kita menyia-nyiakan bakat dan potensi yang dikaruniakan Allah Swt pada kita.”Janganlah selalu membidik, tapi tidak pernah membukakan pelatuk untuk menembak”.
      Jadi, dari ketiga macam tipe orang tersebut dapat disimpulkan bahwa ukuran kebesaran seseorang atau tolok ukur kebaikan seseorang adalah seberapa dekat dia dengan Allah Swt, seberapa manfaat dia sesama manusia, dan seberapa optimal ia mampu untuk mengembangkan potensi dirinya dan memperbaiki diri terus menerus.
      Ketiga kekaguman di atas mengantarkan kita pada sebuah motto dan missi hidup,”Hidup ini intinya adalah mencintai Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, menjadi berkah bagi umat manusia, dan mengembangkan diri terus menerus, yang berorientasi untuk menggapai ketenangan batiniah”. Karena,” Kita pasti akan kembali ke Tuhan kita” (QS Az-Zukhruf ayat 14).
      Kesadaran itu yang mendorong manusia untuk terus berbuat dan berjuang dengan sebaik-baiknya di muka bumi ini hingga akhir hayat. Manusia berusaha sekuat tenaga yang mengharap ridha Allah Swt. Kesadaran akan adanya hari kemudian adalah pusat dari segala integritas sekali gus pemenuhan akan dahaga batiniah. Suatu kesadaran bahwa segala tindakan dan hasilnya kelak dirancang untuk tidak berhenti hingga dunia saja, tapi juga hingga hari keadilan tiba. Karena itu teruslah berjuang dengan sebaik-baiknya, siklus tidak hanya berhenti sampai disini, masih ada siklus lanjutan.
      Dengan kesadaran itu akan menghasilkan sebuah karya terbaik manusia untuk berbuat secara maksimal. Namun ungkapan di atas, janganlah diartikan menjadi suatu pengertian bahwa hidup di dunia ini tidak penting,dan kehidupan akhiratlah yang lebih utama, tanpa mau berusaha bekerja dengan sungguh-sungguh di dunia. Tuhan menurunkan dan menciptakan anda sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini, justru bertugas sebagai” rahmatan lil alamin”. Kalau anda idak mau berjuang dan tidak pernah memberikan upaya, bagaimana Tuhan menimbang pekerjaan dan usaha yang telah anda berikan selama anda bertugas di dunia ini? Berikan yang terbaik di dunia, maka niscaya kemenangan akan anda raih, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
      Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Dibawah ini akan disampaikan perkataan manusia di hari “ pembalasan”, menurut firman Allah  QS Al Fajr ayat 24 sebagai berikut:
“Ia (manusia) berkata, Aduhai ....Sekiranya dahulu kubuat persiapan untuk hidupku ini”.
Wallahu a’lam.[DP : 16 dan DP: 2]

Ilmu Pengetahuan VS Kebenaran



      Copernicus, penemu teori “Matahari sentris (bumi dan semua planet lainnya berputar mengelilingi matahari), sangat ditentang kala itu, khususnya oleh kalangan gereja yang meyakini “bumi sentris”.Pada tahun 1609 , Galileo, sang penemu teleskop, mendukung teori Copernicus . Melalui teleskopnya dia bisa melihat Saturnus yang dilingkari gelang-gelang, dan tahulah ia bahwa ada empat buah planet yang berputar-putar mengelilingi bumi ini. Selanjutnya penelitian itu beralih ke planet Vinus. Ini merupakan bagian dari bukti penting yang mengukuhkan teori Copernicus bahwa bumi dan semua planet lainnya berputar mengelilingi matahari. Hal ini pun sebenarnya dibenarkan oleh Al Quran sebagai berikut:
“Ia-lah yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya, (Ia-lah yang) menentukan manzilah-manzilah baginya, supaya kamu tahu jumlah tahun dan perhitungan (waktu). Tiada Allah menciptakan ini, kecuali dengan sebenarnya. Demikianlah Ia menjelaskan ayat-ayat bagi orang yang mengetahui”
                                                                             QS Yunus ayat 5
Sementara itu, dukungannya terhadap teori Copernicus menyebabkan Galileo berhadapan dengan kalangan gereja yang menentangnya habis-habisan. Pertentangan gereja ini mencapai puncaknya pada tahun 1616. Dia diperintahkan menahan diri dari menyebarkan hipotise Copernicus. Galileo merasa terjepit selama bertahun-tahun. Baru sesudah Paus meninggal dunia pada tahun 1623, dia (Paus) digantikan oleh orang yang mengagumi Galileo. Paus baru ini ,Urban VIII ,memberi pertanda ,walau samar-samar bahwa larangan terhadap Galileo tidak lagi diteruskan.
      Enam tahun berikutnya Galileo menyusun karya ilmiahnya berjudul “Dialog tentang Dua sistem Penting Dunia”. Meskipun begitu, penguasa-penguasa gereja mnanggapi dengan sikap berang tatkala buku itu terbit ,dan Galileo langsung diseret ke muka pengadilan agama di Roma. Hukuman lain terhadapnya ,suatu permintaan kepadanya agar ia secara terbuka mencabut kembali pendapatnya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.Ilmuan berusia 69 tahun ini terpaksa melaksanakannya (permintaan gereja) dihadapan pengadilan terbuka .Tetapi ia menunduk ke bumi dan berbisik pelan,”Tengok,dia (bumi ini) masih terus bergerak (berevolusi) .Galileo meninggal dunia pada tahun 1642.
      Kisah di atas sekiranya bisa menggambarkan ,bahwa terkadang suatu kebenaran atas suatu ilmu pengetahuan sering ditutup-tutupi ,untuk melindungi kepentingan diri sendiri atau oleh suatu golongan tertentu. Kejadian seperti itu ,tidak hanya terjadi pada skala besar seperti penemuan Copernicus atau Galileo, tetapi sering juga muncul suatu hal yang skalanya mungkin lebih kecil seperti kebohongan seorang manajer keuangan terhadap perusahaannya untuk menutup-nutupi tentang adanya kebocoran dana, dan akibatnya perusahaan itu hancur. Atau mungkin pejabat-pejabat tinggi negara (eksekutif dan legeslatif) yang membohongi rakyat banyak tentang keadaan negara yang sebenarnya, akibatnya muncul krisis moral dan ekonomi yang berkepanjangan saat ini. Hal ini sangat menghambat kmajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga bidang “ketuhanan”.Semua hal di atas sangat mengganggu missi Tuhan untuk memakmurkan dan mensejahterakan bumi. SehinggaTuhan menurunkan suatu ayat untuk memperingatkan orang-orang yang tidak mau berpikir objektif tersebut.
“Demikianlah kamu ini (wahai ahli Kitab). Kamu bantah membantah tentang sesuatu yang kamu tahu ,tetapi mengapa kamu (sekarang) bantah membantah tentang hal-hal yang tiada kamu tahu?....
                                                                                  QS Ali Imran ayat 66
Ingatlah, bahwa ilmu begerak dari pembenaran dan sanggahan berdasarkan logika dan bukti-bukti nyata. Kalau itu terjadi maka kita mampu menjadi sosok manusia yang tidak saja pekerja keras dan berprestasi ,namun juga mampu mencari “karunia Allah” yang bertebaran di muka bumi.
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.
                                                                           QS Al Jum’ah ayat 10
Dan pembenaran ilmu, juga mampu menilai sesuatu ,mengambil keputusan secara objektif berdasarkan prinsip fitrah abadi, bukan karena pengaruh dan tuntutan lingkungan semata. Anda sangat dianjurkan untuk membca berbagai buku, namun disarankan anda untuk tetap membaca Al Quran ,sebagai peyeimbang ,agar anda tetap memiliki pegangan yang kuat, dan tidak terjerumus pada pemikiran-pemikiran yang keliru.
      Apabila sudah memiliki sebuah pegangan yang kuat di dalam diri, dimana pegangan ini dicapai melalui suatu pengembaraan pemikiran yang logis ,hingga mencapai titik keimanan secara alami, maka niscaya bacaan apapun yang dihadapkan tidak akan mampu menggoyahkan prinsip anda, tapi justru akan lebih memperkuat dan memperkokoh keimanan anda. Setelah selesai membaca ,haruslah kembali pada Allah Swt agar anda tidak tergiring kepada suatu pemikiran yang “terputus” dan berhenti di situ saja. Karena yang benar itu adalah milik Allah semata.[DP : 2]
Wallahu a’lam.